Selasa, 23 Juli 2013, 22:03 –
Bahas Peran Tafaqquh Fid-Din Pesantren, Kemenag Undang 120 Kyai

Bogor (Pinmas) —- Kementerian Agama ingin berupaya merevitalisasi tradisi akademik yang dulu berkibar di pesantren, mengapresiasi produk inovasi dalam metodologi kitab kuning, serta membahas prospek dan proyeksi penyelenggaraan pesantren ke depan.

Penegasan ini disampaikan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam, Ace Saifuddin, ketika memberikan sambutan pembukaan Pertemuan Penguatan Tradisi Akademik, Penguatan Pesantren Tafaqquh Fiddin, dan Sosialisasi Kitab Kuning, Bogor, Senin (22/07) malam.

Hadir dalam kegiatan 120 kyai dan pengasuh pondok pesantren, di antaranya: Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Situbondo, Pesantren Al-Amin Prenduan, Pesantren Amanatul Ummah Mojokerto, Pesantren Tebu Ireng Jombang, Pesantren Lirboyo, dan Pesantren As’adiyah Sengkang Sulsel. Hadir juga para pejabat Kanwil Kemenag Provinsi Bidang Pekapontren.

Menurut Ace Saifuddin, dulu kita mendapati pondok pesantren sebagai gudangnya ilmu pengetahuan yang melahirkan tokoh akademik brillian dan ulama yang mumpuni. Namun, lanjut Ace Saifuddin, pesantren sekarang dirasa mengalami degradasi kualitas akademik dalam menjalankan perannya sebagai lembaga “tafaqquh fiddin”.

Lebih lanjut Ace Saifuddin menjelaskan bahwa, dalam upaya meningkatkan tradisi akademik dan peran tafaqquh fid-din pesantren, Kementerian Agama telah menyelenggarakan pelbagai program, di antaranya Pemberian Beasiswa S2 Kader Ulama, Pemberian Beasiswa Sains dan Teknologi pada Tahfidzul Quran di UIN Malang, Pengiriman ustadz ke luar negeri dan mengirim calon-calon hufazd ke Turki bekerjasama UICCI dengan Kementerian Agama RI. Namun demikian, upaya tersebut masih dirasa kurang, oleh karenanya perlu melibatkan pemerintah daerah untuk memperhatikan pondok pesantren.

Hadir pada kesempatan yang sama, Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin, menyampaikan rasa bangganya atas dedikasi dan komitmen para kyai pengasuh pesantren dalam mengelola pesantren selama ini dan upayanya meningkatkan kualitas pesantren.

“Kita akan imbangi kerja keras bapak-bapak dalam mengelola pesantren dengan keseriusan kita melakukan afirmasi terhadap komunitas pesantren apakah kyai, ustad maupun santri-santrinya,” tegas Kamaruddin.

“Saya sangat konsern untuk meletakan kembali bahwa inti dari pesantren adalah tafaqquh fid-din dan penguatan tradisi keilmuannya,” tembah Kamaruddin.

Kegiatan yang akan diselenggarakan selama tiga hari ini menghadirkan dua Mantan Manteri Agama RI, yaitu: Prof. Dr. KH. M. Tolhah Hasan, SH dan Prof. Dr. KH. Said Agil Husain Al-Munawar, M.A.

Selain itu, beberapa narasumber lainnya adalah KH. Masdar F. Mas’udi (Rais Syutiah PBNU), Prof. Dr. H. D. Hidayat, M.A, (Pengasuh Pesan Subulussalam Ciputat), Dr. Abdul Muqsith Ghazali, M.A (Alumni Ma’had Ali dan Dosen Paramadina Jakarta), DR. KH. Habib Syakur (Penemu Metode Membaca Kitab Kuning 33), dan Dr. Affandi Muchtar, MA (Dosen IAIN Syeh Nur Jati Cirebon). (rb)

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.011123 detik
Diakses dari alamat : 103.7.12.72
Jumlah pengunjung: 12965506
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013. Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.